Lahirnya Koalisi 18+

Meski sibuk sebagai pengacara, Ade Novita, SH (38) tetap eksis dalam kegiatan sosial, seperti di Yayasan Orangtua Peduli (YOP), Gerakan Nasional Kesehatan Ibu & Anak (GKIA), juga menjadi salah seorang inisiator lahirnya @twitpranikah yang bertujuan menyosialisasikan pentingnya persiapan pernikahan. Setelah sekian lama aktif di YOP, GKIA, dan @twitpranikah, advokat ini baru tersadar, “Ternyata negara Indonesia membolehkan praktik perkawinan di usia anak-anak.” Hal ini tercantum dalam UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, khususnya Pasal 7 ayat (1) yang masih membolehkan adanya perkawinan anak–anak. Perkawinan diizinkan jika laki-lakinya sudah mencapai umur 19 dan perempuannya mencapai umur 16.

Padahal, pernikahan bukan sekadar mensahkan suatu hubungan badan, tapi lebih mulia dari itu. Dalam UU Perkawinan pun dijelaskan, perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang lelaki dan seorang perempuan sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan YME. Pernikahan harusnya betujuan mewujudkan keluarga berkualitas, bahwa keluarga berada dalam lingkungan sehat, penyiapan dan pengaturan perkawinan, memastikan kehamilan dan kelahiran yang aman, penurunan angka kematian, pengembangan kualitas penduduk, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Atas dasar itulah, BKKBN sudah jauh-jauh hari getol mengampanyekan usia pernikahan minimal 21 untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. “Sayang, kampanye ini tidak diikuti dengan penguatan peraturan, sehingga sifatnya hanya rekomendasi. Jadinya praktik perkawinan dengan alasan kebudayaan dan mitos serta ketakutan bahkan komersil, tidak dapat dihalangi oleh para petugas KUA dan catatan sipil maupun pejabat berwenang dan pengadilan. Alasannya tidak lain karena persyaratan usia sudah terpenuhi menurut UU Perkawinan,” ungkap Ketua Bidang Pemberdayaan Masyarakat ISHI (Ikatan Sarjana Hukum Indonesia) ini.

Padahal, penelitian membuktikan, kesehatan reproduksi perempuan akan terganggu serta menempatkan perempuan dan bayi dalam risiko kematian yang tinggi, jika menikah di bawah 18 tahun dan hamil di bawah 20 tahun. Tapi apa yang terjadi sekarang ini? Satu dari 10 remaja usia 15-19 tahun telah melahirkan danatau sedang hamil anak pertama (SDKI 2012). Maka, Ade pun gemas dan terpanggil untuk “meluruskan” mengenai UU Pernikahan, supaya tidak terjadi lagi pernikahan di bawah usia 18 yang jelas-jelas melanggar hak-hak anak. Akhirnya, dengan beberapa pihak yang peduli, terbentuklah Koalisi 18+. “Beberapa dari kami adalah aktivis dari berbagai bidang yang peduli pada pemenuhan hak anak, perempuan, serta kesehatan ibu dan anak. Kami sepakat menggunakan tagar #StopPerkawinanAnak dalam setiap aksi dan pergerakan,” papar istri dari Ari Juliano Gema, SH ini.

Untuk anak yang sudah memasuk usia sekolah sebaiknya berikan juga ia pelatihan bahasa asing di lembaga pelatihan bahasa Perancis di Jakarta yang terbaik.